jump to navigation

PROACTIVE PROBLEM SOLVER 12 April 2011

Posted by arcello in Uncategorized.
trackback

Dari bahasanya saja sudah lumayan membuat kening berkerut-kerut. Berkerut karena bingung, sejenis lauk-pauk apakah Proactive Problem Solver itu. Atau malah sudah membuat kesimpulan, kok toko on-line ada tulisan aneh kaya gini sih…nggak nyambung banget.

Hehehe….mohon maaf jika saya sudah membuat prasangka buruk yang teramat kejam tadi. Saya pun yakin kalau judul di atas akan membuat yang membacanya menjadi sedikit penasaran.

Oke…Proactive Problem Solver sebenarnya adalah Judul Program Training yang saya ikuti beberapa hari yang lalu. Tentang apakah itu ? Itu adalah tentang cara untuk menjadi seorang pemimpin yang memiliki pola pikir : selalu berpikir sebelum bertindak atau dengan kata lain mencoba untuk selalu menjadi yang proactive bukan menjadi seorang yang reaktif.

Saya tidak akan menjelaskan detail per detail dari materi training tersebut. Di samping nanti akan terasa sangat membosankan, jujur…..saya juga mungkin sudah lupa tentang materi-materi dari training itu.

Saya cuman menarik satu benang merah dari essensi training itu ke dalam kehidupan saya yang sekarang sudah ber-status sebagai seorang ayah.

Saya sebenarnya tidak begitu peduli dengan isi training itu apakah berguna untuk pekerjaan saya atau tidak. Yang lebih menjadi perhatian utama saya adalah bahwa di dalam training itu banyak saya temui nilai-nilai kehidupan yang seolah-olah seperti menyadarkan saya bahwa saya belum mencapai apa-apa. Ada tiga nilai :

 

1. Penggunaan Otak Kanan & Otak Kiri

Kata Sang Trainer, dari penelitian terakhir didapatkan bahwa rata-rata manusia hanya menggunakan sekitar 0.1 % saja dari kemampuan otak mereka. Whaaattt…!!! Ya…mungkin ada yang sependapat, mungkin banyak juga yang menolaknya mentah-mentah. Saya pribadi melihat, memang otak saya ini baru sekian % saja yang saya gunakan. Skema rutinitas kehidupan saya selama ini adalah bangun tidur, berangkat ke kantor, pulang ke rumah, bercengkerama dengan anak istri terus tidur lagi. Jadi otak saya ini, saat ini, baru bisa memberikan nilai tambah alias added value ke dalam lingkungan kerja, keluarga tercinta dan sedikit sekali ke lingkungan sekitar. Itu pun terasa begitu menguras energi. Dan ternyata saya berkesimpulan kalau itu semua belum ada apa-apanya. Di bandingkan dengan apa ? Dibandingkan dengan, saya ambilkan contoh seorang kolega saya yang berpangkat manager perusahaan besar, menyandang status sebagai istri dan ibu, dan masih bisa mengurusi satu yayasan anak-anak autis yang ia dirikan bersama dengan beberapa temannya. Luar biasa….saya seolah-olah menjadi kecil setiap bertemu dengan ibu yang satu ini. Dan beliau ini tidak pernah mengeluh tentang masalah-masalah yang ia hadapai. Yang ada hanyalah cerita-cerita menarik yang sanggup membuat, bahkan memotivasi saya untuk bisa menjadikan hidup ini lebih berarti. Hidup adalah perjuangan sekaligus petualangan yang akan sangat indah untuk dijalani jika kita iklhas menjalaninya.

 

2. Pilihan Itu Ada di Kita Sendiri

Life is a choise. Berawal dari sebuah buku yang sampai saat ini belum selesai saya baca ( Judulnya : How to Choose , karangan : David Freemantle ), saya mulai menyadari bahwa pilihan-pilihan kecil atau pilihan-pilihan mikro dalam kehidupan sangat menentukan kemana kehidupan kita ini akan berakhir. Pilihan-pilihan sederhana dalam hidup, seperti : ngobrol dengan teman yang kita sukai atau ngobrol dengan teman yang kurang kita sukai, tersenyum saat kita dipaksa me-ngerem mendadak atau memaki-maki sekuat hati, menonton film di HBO atau menonton acara BBC Knowledge, menetapkan rutinitas untuk menelpon orang tua di kampung atau menunggu kalau ada waktu senggang saja, membaca email yang lucu-lucu & menghibur atau membaca email-email pembangkit motivasi, pergi ke mall atau pergi ke toko buku dan masih banyak lagi. Segala sesuatu itu cuman ada 2 sisi yang harus kita pilih. Nah terkandang saya tidak sepenuhnya menggunakan kemampuan otak kanan & otak kiri saya dalam menetukan pilihan-pilihan mikro tadi. Bahkan seringkali saya menggunakan emosi, perasaan dan alam bawah sadar untuk memilih di antara 2 sisi kehidupan saya. Apa efeknya….yaaa…saya merasa sampai saat ini saya itu bukan siapa-siapa.

 

3. Menjadi Orang yang Beruntung

Masih melekat pesan orang tua saya : wong pinter kuwi kalah karo wong bejo ( orang pintar itu kalah dibandingkan dengan orang yang beruntung ) Setuju atau tidak setuju kita kembalikan ke pribadi masing-masing. Saya pribadi akan memilih menjadi orang yang beruntung. Sulitkah ?? Hmmm….saya rasa tidak. Beruntung atau tidak beruntungnya kehidupan kita bukan didasarkan pada nasib, tapi lebih kepada perilaku kita selama kita hidup di dunia ini. Faktor keberuntungan itu mutlak di tangan Yang Maha Kuasa. Kita hanya bisa berusaha keras. Hasil dari usaha kita, semua ditentukan olah Yang Maha Kuasa tadi. Jadi jika kita ingin hasil kita sesuai dengan yang kita inginkan, kita harus jadi orang yang beruntung. Jika kita ingin menjadi orang yang beruntung kita pun harus mampu membuat Yang Maha Kuasa tersenyum bangga kepada kita dan memberikan keberuntungan atau berkah ke dalam kehidupan kita. Intinya adalah jika kita ingin menjadi orang yang beruntung maka kita harus menjadi orang baik.

 

Semoga memberikan manfaat kepada semua yang mau membacanya.

Terima Kasih.

Comments»

1. wi3nd - 20 April 2011

menjadi orang yang baik stuja..

bukan ingin menjadi baik karna dilihat orang tapi karna memang dengan kebaikan yang tulus itulah TUHAN lebih suka..🙂

lakukan lalu lupakan🙂

apa kabar mama arcelo:)

2. arcello - 21 April 2011

Bener yg ikhlas nan tulus lebih diterima ama Tuhan YME….


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: