jump to navigation

Kesuksesan Terbesar Saya : Sebuah Nilai dari Kata Maaf 21 April 2011

Posted by arcello in Uncategorized.
4 comments

Kalau berbicara kisah kesuksesan dalam hidup, yang pertama kali terlintas di pikiran saya cuma satu kisah. Tapi jangan buru-buru membayangkan sebuah kisah yang berisikan tentang kegelimangan materi ataupun kemapanan hidup. Kalau sudah bicara masalah materi, terlebih kemapanan hidup, terus terang saya nyerah. Gimana nggak nyerah, lah wong untuk urusan beli rumah saja saya masih ngutang sama bank, gimana mau dibilang mapan.

Maka daripada itu, ijinkanlah saya untuk berbagi satu cerita sederhana tentang salah satu kesuksesan terbesar dalam hidup saya. Kesuksesan seperti apakah itu ? Kesuksesan untuk meminta maaf. Hehehe….mungkin terdengar sepele alias simple banget. Minta maaf kok dianggap sebuah kesuksesan hidup. Bukannya meminta maaf itu sudah seharusnya menjadi bagian dari kehidupan kita masing-masing. Mungkin malah ada juga yang membatin, neh orang barangkali nggak ada yang bisa dibangga’in lagi kalii yaa…, masa’ minta maaf dianggap sebagai kesuksesan.
Meminta maaf di sini bagi saya pribadi adalah sebuah pengalaman yang tidak akan pernah saya lupakan sepanjang hidup. Satu kisah, dimana setelah sekian lama, saya akhirnya bisa mengucapkan sebutir kata maaf yang begitu dalam kepada ibunda tercinta. Bukan sekedar meminta maaf di bibir yang bernada formalitas antara anak dengan orangtua. Bukan pula meminta maaf yang direka-reka karena ada maunya ataupun karena lagi ada acara hari raya Idul Fitri. Tapi meminta maaf yang muncul dari dasar hati yang terdalam, disertai dengan sebuah kesungguhan yang begitu mendalam. Meminta maaf karena betul-betul ingin meminta ampun atas segala kesalahan, kenakalan, kekeras-kepalaan, kebodohan, kebandelan dan kekurang-ajaran dari seorang anak terhadap ibundanya.
Sudah lebih dari 25 tahun saya sering membuat kecewa bahkan tidak jarang membuat ibunda saya menangis akibat kelakuan saya yang begitu tidak masuk akal dan kekanak-kanakan. Momen hari raya Idul Fitri yang merupakan waktu yang sempurna untuk sungkem & meminta maaf ke orang tua, sering saya anggap cuman sekedar pelengkap spirit Minal Aidzin Wal Faidzin saja.
Kesuksesan meminta maaf ini adalah murni karena andil yang begitu luar biasa dari Sang Maha Pencipta. Beliau mengirimkan satu penyakit kepada saya. Satu penyakit yang sering dikenal sebagai penyakitnya anak-anak kost perantauan. Penyakit itu adalah penyakit tifus. Judulnya memang “cuman” tifus, tapi rasa sakitnya sungguh teramat luar biasa. Tubuh benar-benar terasa lemas tak bertenaga, kepala pusingnya minta ampun, perut melilit-lilit, badan kadang panas kadang jadi dingin dan tulang-tulang seperti kompak menjadi ngilu semua. Selama 10 hari dirawat, saya cuman diperbolehkan makan bubur plus teh hangat manis. Rutinitas 80 % saya habiskan di atas tempat tidur. Bebutir-butir obat saya telan setiap 3 kali sehari. Kondisi tubuh makin lama bukannya makin membaik, tapi malah makin memburuk.
Hingga suatu malam Allah memulai proses kesuksesan terbesar saya. Dengan segenap kelemahan hati, dengan segala ketulusan nurani dan dengan semua kepasrahan hidup, saya meminta maaf kepada ibunda tercinta saya. Meminta maaf kali ini terasa sangat berbeda dengan yang sebelum-sebelumnya. Kali ini ada satu perasaan luar biasa yang menjalari aliran darah saya. Perasaan yang begitu iklhas dan begitu pasrah untuk meminta ampun kepada ibunda tercinta. Bahkan tak terasa, air mata mengalir begitu deras.
Pagi hari pun datang dengan keindahannya tersendiri. Ajaib…sungguh ajaib, badan saya terasa begitu segar & bersemangat. Untuk pertama kalinya akhirnya saya mulai bisa mengkonsumsi roti tawar. Kondisi tubuh lambat laun makin menunjukkan peningkatan yang positif. Dan setelah dua hari dari proses meminta maaf itu, saya diperbolehkan pulang dari rumah sakit.
Sungguh Maha Besar Kau Ya Allah. Kau hadiahkan kepadaku satu peristiwa maha penting dalam hidupku. Satu peristiwa dimana akhirnya aku bisa mengucapkan kata maaf yang sesungguh-sungguhnya kepada sesosok wanita yang begitu berjasanya dalam kehidupanku. Terima Kasih Ya Allah….terima kasih ibu.

Advertisements

PROACTIVE PROBLEM SOLVER 12 April 2011

Posted by arcello in Uncategorized.
2 comments

Dari bahasanya saja sudah lumayan membuat kening berkerut-kerut. Berkerut karena bingung, sejenis lauk-pauk apakah Proactive Problem Solver itu. Atau malah sudah membuat kesimpulan, kok toko on-line ada tulisan aneh kaya gini sih…nggak nyambung banget.

Hehehe….mohon maaf jika saya sudah membuat prasangka buruk yang teramat kejam tadi. Saya pun yakin kalau judul di atas akan membuat yang membacanya menjadi sedikit penasaran.

Oke…Proactive Problem Solver sebenarnya adalah Judul Program Training yang saya ikuti beberapa hari yang lalu. Tentang apakah itu ? Itu adalah tentang cara untuk menjadi seorang pemimpin yang memiliki pola pikir : selalu berpikir sebelum bertindak atau dengan kata lain mencoba untuk selalu menjadi yang proactive bukan menjadi seorang yang reaktif.

Saya tidak akan menjelaskan detail per detail dari materi training tersebut. Di samping nanti akan terasa sangat membosankan, jujur…..saya juga mungkin sudah lupa tentang materi-materi dari training itu.

Saya cuman menarik satu benang merah dari essensi training itu ke dalam kehidupan saya yang sekarang sudah ber-status sebagai seorang ayah.

Saya sebenarnya tidak begitu peduli dengan isi training itu apakah berguna untuk pekerjaan saya atau tidak. Yang lebih menjadi perhatian utama saya adalah bahwa di dalam training itu banyak saya temui nilai-nilai kehidupan yang seolah-olah seperti menyadarkan saya bahwa saya belum mencapai apa-apa. Ada tiga nilai :

 

1. Penggunaan Otak Kanan & Otak Kiri

Kata Sang Trainer, dari penelitian terakhir didapatkan bahwa rata-rata manusia hanya menggunakan sekitar 0.1 % saja dari kemampuan otak mereka. Whaaattt…!!! Ya…mungkin ada yang sependapat, mungkin banyak juga yang menolaknya mentah-mentah. Saya pribadi melihat, memang otak saya ini baru sekian % saja yang saya gunakan. Skema rutinitas kehidupan saya selama ini adalah bangun tidur, berangkat ke kantor, pulang ke rumah, bercengkerama dengan anak istri terus tidur lagi. Jadi otak saya ini, saat ini, baru bisa memberikan nilai tambah alias added value ke dalam lingkungan kerja, keluarga tercinta dan sedikit sekali ke lingkungan sekitar. Itu pun terasa begitu menguras energi. Dan ternyata saya berkesimpulan kalau itu semua belum ada apa-apanya. Di bandingkan dengan apa ? Dibandingkan dengan, saya ambilkan contoh seorang kolega saya yang berpangkat manager perusahaan besar, menyandang status sebagai istri dan ibu, dan masih bisa mengurusi satu yayasan anak-anak autis yang ia dirikan bersama dengan beberapa temannya. Luar biasa….saya seolah-olah menjadi kecil setiap bertemu dengan ibu yang satu ini. Dan beliau ini tidak pernah mengeluh tentang masalah-masalah yang ia hadapai. Yang ada hanyalah cerita-cerita menarik yang sanggup membuat, bahkan memotivasi saya untuk bisa menjadikan hidup ini lebih berarti. Hidup adalah perjuangan sekaligus petualangan yang akan sangat indah untuk dijalani jika kita iklhas menjalaninya.

 

2. Pilihan Itu Ada di Kita Sendiri

Life is a choise. Berawal dari sebuah buku yang sampai saat ini belum selesai saya baca ( Judulnya : How to Choose , karangan : David Freemantle ), saya mulai menyadari bahwa pilihan-pilihan kecil atau pilihan-pilihan mikro dalam kehidupan sangat menentukan kemana kehidupan kita ini akan berakhir. Pilihan-pilihan sederhana dalam hidup, seperti : ngobrol dengan teman yang kita sukai atau ngobrol dengan teman yang kurang kita sukai, tersenyum saat kita dipaksa me-ngerem mendadak atau memaki-maki sekuat hati, menonton film di HBO atau menonton acara BBC Knowledge, menetapkan rutinitas untuk menelpon orang tua di kampung atau menunggu kalau ada waktu senggang saja, membaca email yang lucu-lucu & menghibur atau membaca email-email pembangkit motivasi, pergi ke mall atau pergi ke toko buku dan masih banyak lagi. Segala sesuatu itu cuman ada 2 sisi yang harus kita pilih. Nah terkandang saya tidak sepenuhnya menggunakan kemampuan otak kanan & otak kiri saya dalam menetukan pilihan-pilihan mikro tadi. Bahkan seringkali saya menggunakan emosi, perasaan dan alam bawah sadar untuk memilih di antara 2 sisi kehidupan saya. Apa efeknya….yaaa…saya merasa sampai saat ini saya itu bukan siapa-siapa.

 

3. Menjadi Orang yang Beruntung

Masih melekat pesan orang tua saya : wong pinter kuwi kalah karo wong bejo ( orang pintar itu kalah dibandingkan dengan orang yang beruntung ) Setuju atau tidak setuju kita kembalikan ke pribadi masing-masing. Saya pribadi akan memilih menjadi orang yang beruntung. Sulitkah ?? Hmmm….saya rasa tidak. Beruntung atau tidak beruntungnya kehidupan kita bukan didasarkan pada nasib, tapi lebih kepada perilaku kita selama kita hidup di dunia ini. Faktor keberuntungan itu mutlak di tangan Yang Maha Kuasa. Kita hanya bisa berusaha keras. Hasil dari usaha kita, semua ditentukan olah Yang Maha Kuasa tadi. Jadi jika kita ingin hasil kita sesuai dengan yang kita inginkan, kita harus jadi orang yang beruntung. Jika kita ingin menjadi orang yang beruntung kita pun harus mampu membuat Yang Maha Kuasa tersenyum bangga kepada kita dan memberikan keberuntungan atau berkah ke dalam kehidupan kita. Intinya adalah jika kita ingin menjadi orang yang beruntung maka kita harus menjadi orang baik.

 

Semoga memberikan manfaat kepada semua yang mau membacanya.

Terima Kasih.