jump to navigation

Esensi Silaturahmi Masa Kini Dalam Segenggam Ponsel dan Secarik Pulsa 17 December 2010

Posted by arcello in Uncategorized.
trackback

Di satu sudut meja, tergeletak sebuah ponsel dalam kondisi low battery. Si ponsel sudah cukup lelah melayani tuannya seharian penuh. Belum sempat si ponsel memejamkan mata, tuannya sudah bersiap mengirimkan SMS lagi.

“ Busyeeet neh si Boy, gw dah mau koit kaya’ gini masih aja ngirim-ngirim SMS “ gerutu si ponsel. Tak peduli dengan gerutuan ponselnya, si Boy langsung mengetikkan sebait SMS yang ditujukan ke pamannya yang berada di seberang pulau.

pmn, mf boy br smpt blas sms nh, maklm sbk, mm udah sls opersi, pp msih otw k jkrt

( artinya : paman, maaf boy baru sempat balas sms neh, maklum sibuk, mama udah selesai operasi, papa masih otw ke Jakarta )

“ Ampuuun neh si Boy, ngirim SMS pakai bahasa alay, mana ngerti tuh orang tua…” lagi-lagi si ponsel menggerutu kesal.

SMS dengan gaya alay memang sedang trend di kalangan kawula muda sekarang ini. SMS alay yang kebanyakan berisikan singkatan kata-kata yang kurang direstui oleh Tata Bahasa Indonesia Yang Baik dan Benar, kadang membuat penerimanya mesti berpikir sejenak.

Kalau boleh berpendapat, adanya gaya alay dalam ber-SMS itu lebih karena 2 alasan mendasar, gaul dan praktis. Gaul yang menjadi ciri khas generasi muda saat ini, tidak bisa tidak sudah menjadi semacam syarat jika ingin tetap menyatu dengan perkembangan jaman.

Untuk alasan praktis, tidak bisa dipungkiri jika perkembangan teknologi, khususnya teknologi telekomunikasi, pada dasarnya memang dibuat untuk menunjuang ke-praktis-an kehidupan umat manusia. Termasuk juga di dalamnya adalah ke-praktis-an proses komunikasi-silaturahmi. Mungkin kita masih ingat di era tahun 90-an, dimana ponsel belum berkibar, kemudahan proses komunikasi-silaturahmi dijembatani oleh benda-benda pos. Sebut saja surat pos, kartu lebaran, ataupun wessel, menjadi aktor utama untuk urusan pelayanan komunikasi-silaturahmi saat itu.

Setelah masuknya era hand phone alias HP alias ponsel, sistem komunikasi berbasis pos tadi lambat laun mulai ditinggalkan.  Saya ambil contoh data dari PT. Pos Indonesia Kantor Wilayah Usaha Pos V Jawa Barat. Tahun 2001 jumlah surat yang dikirim lewat pos tercatat sebanyak 896.690 eksemplar. Pada akhir tahun 2003 dimana pada tahun tersebut ponsel mulai merambah Indonesia, angkanya menurun menjadi 82.327 eksemplar. Kalau mau dihitung secara kasar, berarti tingkat penggunaan surat pos menurun sekitar 40 %.

Untuk pemakaian ponsel sendiri, khusus di daerah Jawa Barat, antara rentang waktu 2003-2004, ada sekitar 4 juta orang pengguna ponsel. Di tahun 2010 angkanya membengkak menjadi 20 juta orang. Dalam rentang waktu 7 tahun saja jumlah pengguna ponsel meningkat sekitar 500 % atau 71 % setiap tahunnya, wow….angka yang cukup fantastis bukan.

Alasan praktis juga-lah yang melatar-belakangi adanya percepatan perkembangan teknologi ponsel belakangan ini. Tidak bisa disangkal lagi bahwa ponsel telah “mencubit” sistem pos dalam sebuah tatanan komunikasi-silaturahmi. Dengan teknologi SMS, MMS, e-mail, chating, atapun multimedia call, setiap orang yang ingin berkomunikasi dan bersilaturahmi akan mendapat segala kemudahan. Tak perlu pakai perangko. Tak usah repot mencari kotak-kotak surat. Tak perlu menunggu kabar balasan terlalu lama. Dengan sekali klik, ponsel membuat hubungan komunikasi-silaturahmi terasa jauh lebih praktis.

Komunikasi – Silaturahmi Masa Kini

Silaturahmi dapat dianalogikan sebagai sebentuk aktifitas kunjung-mengunjungi ataupun saling bertegur sapa. Itu benar. Namun, sesungguhnya makna silaturahmi bisa lebih  dari sekedar aktifitas mengunjungi ataupun bertegur-sapa. Asal kata silaturahmi, shilat yang berarti menyambungkan atau menghimpun, dan ar-rahiim yang berarti kasih sayang, mengandung makna yang lebih dalam, yaitu sesuatu hal yang bertujuan untuk menghubungkan kasih sayang yang bermuara kepada nilai tolong-menolong antar sesama manusia, dengan dilandasi ketulusan dan keiklhasan hati. Inti esensi silaturahmi terletak pada rasa kepedulian antar sesama.

Bagaimana dengan silaturahmi masa kini ? Pernah seorang kawan bilang ke saya, kalau saat ini bumi berotasi lebih cepat daripada ketika dia masih kecil dulu. Ah…   masa’ seh ? Ternyata yang dia maksud adalah bahwa elemen waktu di dunia pada saat ini bergerak lebih cepat dibandingkan dengan masa lalu. Jaman sekarang semua dituntut untuk bergerak lebih cepat. Semuanya harus serba cepat…cepat…dan cepat. Dan sepertinya tuntutan serba cepat itu pun merambah ke ruang komunikasi-silaturahmi antar manusia. Dengan makin padatnya kesibukan dunia, dengan makin cepatnya perubahan di segala sendi kehidupan, ditambah lagi dengan kondisi jaman yang makin tak menentu, proses silaturahmi harus bisa diwujudkan dalam one fast and compact package service. Istilahnya, dengan waktu beberapa menit atau bahkan beberapa detik sebuah proses silaturami bisa berlangsung dengan sukses.

Beruntunglah kita karena saat ini ponsel sanggup mengakomodasi semua tuntutan yang serba cepat tadi. Dan bersyukurlah juga karena ponsel sudah makin akrab dengan sahabat sejatinya si pulsa.

Keharmonisan antara ponsel dan pulsa diawali dengan diciptakannnya handphone seberat 2 kg oleh Martin Cooper bersama dengan bantuan tim Motorola sekitar tahun 1973. Handphone tadi membutuhkan proses adaptasi dengan suatu jaringan telekomunikasi 3 MHz spectrum           ( setara dengan 5 chanel  TV yang tersalur ke seluruh dunia ) untuk dapat digunakan secara mobile. Maka terciptalah sinergi yang indah antara ponsel dengan jaringan telekomunikasi-nya.    Jaringan telekomunikasi tadi tentunya bukan sesuatu yang gratis, ada biaya yang harus dikeluarkan demi menikmati fasilitas telekomunikasi itu. Ini bukan-lah hukum alam, melainkan hukum ekonomi. Oke…..untuk selanjutnya mari kita analogikan jaringan telekomunikasi tadi sebagai sebuah fasilitas berbayar, setuju ? Fasilitas berbayar ini-lah yang di jaman modern sekarang ini salah satunya bisa diejawantahkan lewat secarik pulsa.

Dengan kehadiran si pulsa dan si ponsel tadi esensi silaturahmi makin berkembang. Silaturahmi mulai menumbuh ke arah proses sosialisai informasi yang lebih berorientasi kepada rasa kepedulian. Sosialisasi informasi ini pun berjenjang-jenjang tingkatannya, mulai dari sosialisasi informasi dari pemerintah ke masyarakat, sosialisasi informasi antar masyarakat, sampai dengan sosialisasi informasi di dalam keluarga. Secara canggih, ponsel dan pulsa sanggup melayani kebutuhan silaturahmi tersebut di semua tingkatan.

Silaturahmi Pemerintah – Masyarakat

Pemerintah sebagai penentu kebijaksanaan negara tentu mempunyai berbagai program jangka panjang dan jangka pendek yang menyangkut kepentingan masyarakat luas. Program-program pemerintah tadi harus disosialisasikan secara benar ke masyarakat agar tidak terjadi miss communication.

Pentingnya sebuah esensi silaturahmi dari pemerintah ke masyarakat juga dipahami betul oleh Presiden Republik Indonesia Susilo Bambang Yudhoyono. Beliau pun memanfaatkan teknologi ponsel dengan membuka layanan pengaduan masyarakat lewat SMS di nomor 9949. Lewat SMS 9949 tersebut pemerintah berusaha membangun opini kerakyatan yang ingin bersuara, “ kita juga peduli terhadap kondisi rakyat…“. Dalam sehari Pak SBY bisa menerima jutaan pesan SMS, baik yang berisikan informasi-informasi penting ataupun pengaduan-pengaduan dari masyarakat.

Dengan teknologi SMS ini juga Presiden Susilo Bambang Yudhoyono secara broadcasting pernah mengirimkan pesan anti narkoba dalam rangka memperingati hari sumpah pemuda. SMS anti narkoba ini dikirim ke sekitar 120 juta nomor. Adapun isi pesan SMS-nya adalah : “ Bahaya Narkoba Menjadi Tanggung Jawab Bersama. Mari Selamatkan Generasi Bangsa dengan Memerangi Narkoba.”

Kalau di jaman dahulu, kita sebagai masyarakat jika ingin berkeluh-kesah dengan Pak Presiden susahnya sudah setengah mati. Boro-boro mau menyampaikan keluhan, lah wong sekedar menyampaikan uneg-uneg tentang satu kebijaksaan pemerintah saja bisa langsung masuk penjara.

Jadi jelas, kehadiran ponsel dan pulsa membuat proses silaturahmi antara pemerintah dan rakyatnya mampu  menembus segala batasan, dan menciptakan suatu ikatan kepedulian dalam tatanan kehidupan berbangsa dan bernegara.

Silaturahmi Masyarakat – Masyarakat

Kita ambil contoh sederhana sebagai berikut. Masalah macet, satu masalah klasik yang tak berujung-pangkal dan melanda hampir di semua kota-kota besar di Indonesia, khususnya Jakarta. Dengan semakin seringnya terjadi kemacetan maka masyarakat pun dituntut untuk lebih kreatif. Salah satunya adalah lahirnya kebutuhan informasi tentang keadaan jalanan ibukota khususnya di pagi dan sore hari. Nah beberapa stasiun radio menjembatani kebutuhan tersebut dengan menyediakan layanan saling berbagai info jalanan antar pendengar setianya. Di sini si ponsel dan si pulsa menjadi piranti yang sangat bermanfaat untuk melaporkan kondisi jalanan ibukota ke penyiar stasiun radio yang selanjutnya akan disampaikan ke khalayak ramai. Sampai di sini saya kira esensi nilai silaturahmi sudah mulai bisa dipetik. Bukankah membantu orang lain, yang dilandasi sikap peduli dengan memberikan informasi kondisi jalanan terkini adalah bagian dari nilai sebuah silaturahmi.

Jika penjabaran di atas masih kurang, akan coba saya tampilkan dari sudut pandang ekonomi kerakyatan. Kita ambil contoh begini, suatu hari si Boy mendapat info kemacetan parah di sekitar jalanan protokol ibukota dari radio kesayangannya. Karena si Boy ini lumayan pinter, beliau pun segera memutar mobil 1.500 cc-nya demi mencari jalur alternatif. Dan seperti kita duga, si Boy bisa sampai di kantor on-time dan tidak terjebak di kemacetan yang mungkin bisa memakan waktu berjam-jam. Katakanlah sang pemberi info tadi menelpon dari ponsel-nya selama 5 menit-an. Dengan biaya pulsa menelpon sebesar Rp 300/menit maka total biaya yang dikeluarkannya adalah Rp 1.500,-.

Ada sebuah penelitian yang menyebutkan ketika sebuah mesin mobil dalam keadaan hidup tapi tidak bergerak selama 30 menit, maka mobil tersebut akan memboroskan bensin sekitar  1-1.5 liter. Jika si Boy tadi kena apes dan jadi terjebak di kemacetan selama 1 jam, maka konsumsi bensin untuk mobilnya akan bertambah menjadi 2 liter atau setara dengan Rp 9.000,- Sederhananya, dengan modal Rp 1.500,- seseorang bisa “menyelamatkan” pemborosan BBM bersubsidi senilai Rp 9.000. Itu baru satu mobil saja, bagaimana jika yang mendengar info kemacetan tadi ada sekitar 50 mobil ?

Silaturahmi Di Dalam Keluarga

Jika bicara tentang manfaat ponsel dalam komunikasi-silaturahmi antar anggota keluarga, rasa-rasanya tidak perlu saya uraikan secara panjang lebar. Semua juga tahu dan pernah merasakan manfaatnya ponsel untuk berkomunikasi dengan anggota keluarganya. Bukankah saat ini hampir 180 juta atau sekitar 80 % dari jumlah penduduk Indonesia sudah mempunyai ponsel.

Oleh karena itu yang akan saya ketengahkan kali ini lebih kepada komunikasi-silaturahmi antar anggota keluarga, dimana ada satu atau dua anggota keluarganya yang menjadi TKI di luar negeri. Maraknya berita soal nasib dan penderitaan para TKI menjadi alasan kuat mengapa saya lebih tertarik untuk membahas masalah ini. Harapan saya, semoga lewat secuil tulisan yang masih acak adut ini, rasa kepedulian kita terhadap saudara-saudara kita, para pahlawan devisa itu bisa menebal dan terus menebal.

Para TKI yang jumlahnya tidak sedikit, kesemuanya mempunyai satu tujuan mulia, ingin meningkatkan kesejahteraan keluarga tercintanya, keluarga yang ia tinggalkan demi mengais rejeki di negeri orang. Sedangkan keluarga yang ditinggalkan tentu mengharapakan bahwa anggota keluarganya yang berangkat menjadi TKI bisa bekerja dengan aman dan nyaman, tanpa adanya siksaan, tekanan, maupun ancaman. Dengan demikian, para keluarga TKI tadi dapat merasa lega dan tenang tanpa dibebani berita-berita seputar penyiksaan maupun diskriminasi.

Untuk itulah ponsel dan pulsa diciptakan. Dengan kemajuan teknologi komunikasi saat ini, proses interaksi antara para TKI dengan keluarganya menjadi semakin mudah dan praktis. Sudah banyak penyedia layanan telekomunikasi di tanah air yang menyediakan layanan komunikasi untuk mendukung hal tersebut.

XL adalah salah satunya. Dengan diluncurkannya program Layanan XL Sukses pada tahun 2008, para TKI memperoleh segala kemudahan dalam melakukan komunikasi-silaturahmi dengan sanak familinya di tanah air. Layanan hasil kerjasama XL dengan CELCOM – Malaysia memberikan beragam manfaat untuk para TKI, antara lain kartu perdana gratis, akses komunikasi internasional yang mudah dan murah, kemudahan transfer dana ke Indonesia, transfer pulsa, layanan Broadcast SMS dan juga layanan VAS (Value Added Services). Tarifnya pun menurut saya amat terjangkau. Untuk para TKI yang bekerja di Malaysia, yang ingin bersilaturahmi dengan keluarganya di Indonesia via ponsel, tarifnya adalah  RM 0,35/menit atau sekitar Rp 875/menit. Sedangkan untuk keluarga Indonesia dapat menghubungi para TKI di Malaysia dengan tarif Rp  540/menit melalui kode akses 01000.

Betapa pentingnya esensi silaturahmi ini, khususnya untuk para TKI. Dengan makin mudah dan makin murahnya proses komunikasi-silaturahmi itu, maka segala kabar berita antara TKI dengan keluarga tercintanya dapat segera tersampaikan. Ini akan sangat membantu dalam rangka sebuah proses perlindungan dan kepedulian terhadap nasib para penyumbang devisa terbesar negara kita tersebut.

Sebetulnya masih banyak nilai-nilai kepedulian terhadap suatu kehidupan hakiki yang bisa diraih lewat teknologi telekomunikasi. Dengan bermodalkan secarik pulsa dan segenggam ponsel di tangan, kita bisa menunjukkan sisi humanis sebagai seorang makhluk yang peduli terhadap sesamanya. Dan jika nilai-nilai kepedulian yang kemudian ditransformasikan menjadi sikap tolong-menolong tadi terwujud secara nasional, maka akan berdampak positif terhadap kehidupan bangsa Indonesia ini, yang ironisnya justru sedang terpuruk dalam sebuah krisis kepedulian.

Comments»

1. mandor tempe - 17 December 2010

memang ponsel adalah alat yang cerdas hasil inovasi anak manusia abad ini. Penggunaannya pun harus bijak agar bisa bermanfaat bagi semua khalayak.
Namun begitu masih saja ada orang yang mengirimkan SMS “ini nomer HP baru mama, mama butuh pulsa. tolong kirim …. “

2. arcello - 20 December 2010

yup betul….
ada aja orang yg tega memancing di air keruh ya…
thanks for kunjungannya ya…

3. Keping Hidup - 24 December 2010

Silaturahmi blog – blog😀

arcello - 4 January 2011

terima kasih buat silaturahmi-nya

4. second hand baby car seats - 27 December 2010

semua itu tentu ada sisi baik dan buruk nya

arcello - 4 January 2011

betul and setuju banget….

5. asfanforever - 12 January 2011

wah.wah.wah….pembahasan yang cukup memberi serapan ilmu yang lumayan bermanfaat…..
dan silaturahmi yang paling baik adalah yang bertatap muka langsung….makanya meskipun sudah ada HP dan kecanggihan teknologi…di negara kit kalo lebaran…orang berduyun-duyun kembali ke kampung halaman…menemui suadaranya , karena disini ada kekuatan “emosional” yang tak tergantikan dibanding bahasa teks sms atau suara telepon, teleconference….
ssalut buat tulisannya

arcello - 25 January 2011

terima kasih….
memang dengan bertatap muka, bersalaman maupun berpelukan sisi kekuatan “emosional” akan lebih terasa. Tapi HP akan sangat membantu dalam keterbatasan ruang dan waktu

6. dongengkakvina - 17 January 2011

komunikasi lewat hp memang praktis…

tapi sms hanya dibaca sepintas lalu, kurang menancap di memori

arcello - 25 January 2011

betul…praktis krn tuntutan jaman yg serba cepat….


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: