jump to navigation

Si Lilin Kecil dan Si Kue Potong 10 May 2010

Posted by arcello in Uncategorized.
trackback

ini adalah puisi yang saya buat waktu belum jadi seorang suami dan seorang ayah….alias masih bujangan

puisi ini saya tulis waktu saya berulang-tahun yang ke…mmmm…yang ke…..

wadow…saya lupa…hehehe…

Pada suatu waktu.
Pada hari perayaan seorang umat manusia.
Lilin Kecil dan Kue Potong bercakap untuk kesekian kalinya.Si Lilin mulai bersuara.

Tahun lalu aku membawa beban pengharapan yang berat dari anak manusia ini.
Dia meniup diriku sambil berharap dan bermimpi tentang segala sesuatu yang ingin direngkuhnya setahun lagi.
Dia membisikan selembut pesan kepada Sang Radja untuk perpanjangan umurnya setahun lagi.
Dan ketika asapku mengetuk pintu kerajaan-Nya, aku sampaikan sejuta pengharapan anak manusia itu. Berharap aku bisa pulang dan beristirahat dengan tenang di peraduanku.
Tapi, seperti tahun-tahun sebelum itu, Sang Radja kembali menanyaiku dengan pertanyaan yang sama.
” Apa yang akan diberikan anak manusia ini, untuk dunia-Ku dan dunianya, jika aku berikan setahun lagi kesempatan untuk nafas dan darahnya ? ”

Si Lilin Kecil berhenti sebentar, lalu kembali berucap pelan.

Dan seperti tahun-tahun sebelum itu, bahkan diamku tak mampu menjawab pertanyaan itu, karena aku hanya sebuah kurir tahunan.
Dan betapa bodohnya anak manusia ini. Setiap tahun, kembali aku disuruhnya lagi untuk menghadap Sang Radja.
Dan kembalilah aku kepada-Nya dengan segala kekosongan jiwa.
Aku lelah….aku bosan…..aku……….muak…..!!
Aku sudah tak bernyawa dengan segala urusan anak manusia ini.

Si Kue Potong tertawa renyah.

Wahai temanku Si Lilin yang rapuh, kenapa ujarmu tak berpandang sebelah.
Tidaklah engkau lihat, nasibku pun lebih sial daripada engkau.

Bagaimana mungkin ?

Dengarkanlah…….
Ketika perayaan menjelang puncak, aku pun mengambil peranan.
Mulai-lah terkoyak seluruh daging tepungku dengan sayatan logam tipis bergigi tajam.
Dan kau tahu, kepada siapakah belahan pertama ini dipersembahkan ?

Lilin kecil menggeleng pelan.

Hanya kepada seseorang yang mereka harapkan bisa memberikan sesuatu yang lebih daripada yang sudah mereka terima.
Entah itu rasa sayang insani, kemujuran nasib, kerlip emas kehidupan, bahkan pernak-pernik kecil yang sengaja dibungkus rapi dengan kertas-kertas minyak.

Si Lilin tampak berbingung diri.

Lalu dimana-kah bagian terburuk dari semua ceritamu itu wahai teman lamaku Si Kue Potong ?
Dan bukankah engkau bahkan terbingkai dengan pecahan pundi-pundi kekayaan mereka ?

Kue Potong menjawab lirih.

Di setiap empat musim berganti dan hampir selama hidupku.
Aku selalu berharap dan bermimpi bisa bertemu dan bersujud di hadapan Sang Radja dengan membawa kemegahan doa-doa mereka.
Tapi apa yang aku dapat ?
Aku selalu dan selalu bertemu dengan musuh baikku Si Nafsu Duniawi.
Yaa….nafsu untuk memiliki dunia ini yang sebenar-benarnya bukan milik mereka.

Comments»

1. shafiragreensulaiman - 16 May 2010

puisinya panjaaaaang😀

arcello - 17 May 2010

hehehe….
tapi nggak sepanjang jalan kenangan kok…
makasih ya…buat mampirnya

2. BlogCamp - 21 May 2010

Selamat ulang tahun (walau terlambat)
Semoga panjang umur, sehat,sejahtera dan bahagia lahir batin.Amin

Salam hangat dari Surabaya

3. Sky Blue Credit - 16 March 2011

The writing style suites the subject nicely. I will be looking out for new entries.


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: