jump to navigation

Aku Hamil…., Oh Tidak….!!! ( Part 2 ) 28 April 2010

Posted by arcello in Uncategorized.
trackback

” Oh tidak….”, mungkin kalimat itu yang sekarang sedang bercokol di benak istri tercintaku ini. Bahkan omongan dari bapak ibu-nya pun sepertinya bakal kandas tak berbekas. Sempat kepikiran nelpon ke Jogja biar ibu-ku yang mencoba menggerakkan hatinya, tapi takut nanti malah jadi saling bersalah paham.

Ya Allah hanya kepada-Mu lah hambaMu yang nggak tahu diri ini memohon pertolongan. Buka-lah pintu istri hamba tercinta dari kerasnya sebuah termologi pola pikir. Ya Allah…hamba mohon, untuk kesekian kalinya…lihatkanlah kepada istri hamba satu kenikmatan akan hadirnya seorang buah hati. Ya Allah….ampuni segala kekhilafan hamba dan kabulkanlah segala permohonan hamba di atas Ya Allah…Amin.

Maha Besar Allah dengan segala Keagungan-Nya. Selang satu hari, istri tercintaku mendatangiku dengan teramat manja, lain dari manja biasanya.

” Mas…maaf’in aku ya…”

” Iya….” jawabku singkat tapi sarat makna.

Dengan keajaiban dan kekuatan Allah, istriku mulai menikmati dan tentu saja menyadari bahwa kehadiran jabang bayi itu adalah anugerah yang luar biasa indanya. Dia juga sudah mulai paham kalau di luar sana banyak pasangan suami istri yang sudah lama mendambakan kehadiran sang buah hati. Bahkan mereka berusaha sekuat-kuatnya untuk memperoleh yang namanya keturunan itu. Jadi amat “konyol” rasanya kalau istriku yang diberi kenikmatan untuk hamil cepat malah kelihatan sedih dan setengah menyesal.

” Kita seharusnya segera bersujud syukur ke hadapan-Nya….” aku menambahkan sebuah kesadaran nilai hidup, mumpung momentumnya sedang tepat.

” Tapi kalau boleh, aku mau minta sama Allah supaya dikasih bayi cewek aja…” kata istriku kemudian.

” Lah cowok – cewek sama aja, yang penting sehat dan selamet….” balasku pelan.

” Ngga ah…, aku pengen banget punya anak cewek. Kalau cewek bisa didandani macem-macem, bajunya banyak pilihan model, kalau cowok model bajunya cuma gitu-gitu aja. Lagian kalau anak cewek itu lebih nurut dan nggak gampang nakal. ”

” Ma…..yang penting itu jabang bayi ama ibunya sehat selalu, ngga usah mikirin cowok atau cewek…”

” Pokoknya aku pengen bayi cewek…titik. ” balas istriku sambil ngeloyor pergi.

Walah…..kok jadi begini lagi.

Aku tak banyak cakap lagi, seolah aku melupakan segala kekerasan sikap istriku yang ngebet banget punya anak cewek itu. Daripada terus berdebat mending menyusun segala persiapan, mengingat kehamilan istriku sudah memasuki usia 2 bulan.

Kami berdua mulai mengatur jadwal untuk check-up ke dokter kandungan. Kami juga rajin membaca segala artikel di internet, buku, majalah, dan brosur yang membahas masalah kehamilan. Itu pun selalu diselingi dengan : ” Pa..lihat deh, kalau nanti bayi kita lahir…mau aku dandanin kaya’ gini ah…” kata istriku sambil memperlihatkan salah satu halaman majalah yang ada foto bayi perempuan dengan dandanan yang sangat cantik.

Ampun deh….

Tapi seperti komitmen-ku di awal, aku coba untuk ngga menggubris kata-kata istriku tadi. Fokus-ku kini cuman tertuju ke bagaimana agar sang jabang bayi dan ibunya tetep sehat dan tercukupi segala kebutuhan jasmani dan rohaninya.

Sampai suatu ketika, umur kehamilan istriku menginjak usia 4 bulan-an. Dan dari hasil USG,  dokter menjawab pertanyaan krusial dari istriku tentang jenis kelamin bayi kami nantinya (setiap kali USG yang pertama ditanyakan istriku bukan bagaimana kondisi janinnya, tapi dah ketahuan belum jenis kelaminnya ).

” Kaya’nya bayi ibu cowok neh… ” kata sang dokter penuh karisma.

” Masa’ seh dokter, coba diperiksa lagi…” istriku agak ngotot sedikit.

Sang dokter cuman tersenyum renyah sambil terus memantau gerak janin bayi lewat monitor kecil.

” Iya…kaya’nya cowok neh bu…” kata dokter sekali lagi.

Istriku langsung terdiam, sambil sesekali melihat ke arahku, berharap sesuatu yang aku ngga ngerti.

” Tapi…hasil USG itu kan belum tentu 100 % bener kan Dok…, nanti bisa aja berubah kan…? ”

Dan sekali lagi, sang dokter tersenyum renyah….se-renyah biskuit Kong-Guan.

” Ibu…bayinya sehat, perkembangannya juga normal. Dijaga baek-baek ya bu… ” kata dokter kemudian.

” Tapi bagaimana tentang jenis kelaminnya Dok…? Apa Dokter dah yakin bener kalau bayi saya itu cowok. ” istriku makin tambah ngotot.

” Bu…sekarang yang Ibu butuhkan adalah menjaga kondisi Ibu dan kandungan Ibu. Masalah cowok – cewek sama saja kok bu…yang penting sehat. ” sahut sang dokter.

Aku mengangguk-angguk menyetujui perkataan dokter itu.

Tapi semenjak pulang dari rumah sakit, sampai ke-esokan harinya kembali istriku membisu seribu bahasa. Wajahnya yang makin ayu, jadi tertutupi akibat murung yang menggelayut lekat di sorot matanya.

Aduuuhh…..pasti lagi kepikiran omongan dokter kemaren neh, pikirku pasti.

Kembali aku menengadah ke atas, meminta pencerahan…atau lebih tepatnya….bantuan dari Yang Maha Kuasa demi sebuah kesabaran untuk bisa menenangkan kegundahan dan kemurungan bidadariku itu.

Comments»

1. ajeng - 2 May 2010

semoga bidadarinya gak murung lagi ya😀

2. arcello - 2 May 2010

makasih….makasih….
bidadarinya ga bakal murung lg kok….asal uang belanjanya cukup…hehehehe…

3. langit11 - 4 May 2010

selamat menunggu sang penyejuk hati…
berkah selalu untuk keluarga kecilnya ^_^

arcello - 4 May 2010

terima kasih….menunggu dengan penuh kesabaran ya bu…
salam kenal dan salam hangat saya buat keluarga juga…

4. jachty motorowe - 28 December 2010

You are my favourite website, I read your articles everyday.


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: