jump to navigation

Aku Hamil…., Oh Tidak….!!! ( Part 1 ) 15 April 2010

Posted by arcello in Sedikit Cerita-Que.
trackback

Walaupun sudah hampir satu bulan, kami merasa masih dalam suasana pengantin baru, suittt…suittt. Maksudnya adalah, kami berdua masih begitu excited untuk pergi kemana-mana berdua. Dimulai dari honey-moon, pergi belanja, jalan-jalan ke mall, bahkan beli ketoprak di dekat rumah saja juga kami lakukan berdua. Termasuk betapa bersemangatnya saya untuk mengantar-jemput istri tercinta dari kantor dan juga sangat menikmati obrolan cinta di kala menjelang tidur malam. Pokoknya just the the two of  us saja…serasa dunia ini milik berdua. Tak ada yang bisa mengganggu kemesraan yang sengaja kami ciptakan itu.

Dan….di suatu pagi buta, istri saya membangunkan saya dengan penuh kelembutan. Karena terbiasa dibangunkan dengan berisiknya jam weker, sentuhan halus jemari istri saya justru makin membuat saya tertidur pulas. Istri pun langsung menaikkan level noise-nya agar saya segera tersadar dari mimpi panjang saya.

” Ada apa seh sayang….? “( cie..illeee…, dulu mah panggilnya pake akhiran sayang segala…). Istri saya tidak menjawab, hanya memberikan sesuatu berbentuk panjang pipih kecil seperti pembatas buku mini. Saya yang masih di antara alam sadar dan tidak, mencoba mengamati sesuatu itu. Dan sesuatu itu ternyata sebuah TEST PACK. Di sana tersembul tanda berupa dua garis strip warna biru. Yup….secara test pack itu, istri saya dinyatakan positif hamil. Agak terkejut, saya pun langsung menatap mata istri saya dalam-dalam. ” Positif ya…?? ” tanya saya setengah bego. Dah jelas-jelas kalau sebuah test pack ada dua garis artinya itu positif hamil, masih nanya pula.

Tapi raut wajah yang saya harapkan berbinar-binar dalam kebahagiaan sejati justru jadi diam berbalutkan sebuah ketidak-pastian.Ada apa gerangan istriku ? Bukankah kalau seorang perempuan yang baru saja menikah terus dipastikan hamil dia akan menjadi berbunga-bunga dalam adonan penuh rasa syukur. ” Aku hamil mas….”. Cukup lirih istri saya mengatakannya. Lah terus kenapa…kok jadi bingung begini sayangku.

” Aku belum siap hamil mas…”. Glek. Bagaikan disrempet metromini saya melotot kaget. Loh…kok belum siap, lah terus kalau kita sudah sebulan menikah langsung dikaruniai anugerah ini masa’ belum siap. Dengan seksama saya pun mencoba menelaah sebab musabab kalimat yang dilontarkan istri saya tadi. Kondisi istri saya waktu itu adalah : pertama, dia seorang karyawan yang nyambi kuliah di malam hari dan dia mempunyai keinginan untuk menyelesaikan kuliahnya dulu…baru kemudian mempunyai momongan. Kedua, dia masih berkeinginan untuk menghabiskan waktu berdua dengan suaminya lebih lama sedikit. Dan yang ketiga adalah munculnya satu ketakutan kalau mempunyai seoarang baby itu nantinya akan sangat merepotkan…..dia belum siap untuk itu. Ditambah lagi pernyataan kalau lebih baik kita mengumpulkan kemakmuran dulu sampai kemakmuran itu bisa menjamin kebahagiaan seorang anak.

Waduuhhh….pagi-pagi begini kok sudah banyak bahan diskusi yang kudhu disikapi dengan serius neh. Oke…langkah pertama saya adalah segera mengambil air wudhu untuk mengucapkan berjuta rasa syukur ke Yang Maha Kuasa sambil meminta sedikit kekuatan kepada-Nya guna menghadapi diskusi berat dengan istri saya itu.  Selanjutnya saya mencoba untuk menghangatkan suasana hati dengan secangkir kopi manis buatan saya sendiri. Saya lalu mendatangi kembali istri saya tercinta dengan bermodalkan berbagai macam bentuk teori-teori filsafah kebahagiaan hidup yang hakiki. Tapi yang saya dapati adalah kenyataan mencengangkan dimana istri saya sudah berpeluh air mata. Dan bisa saya pastikan bahwa itu bukanlah air mata kebahagiaan, menilik dari raut wajah istri saya yang syahdu nan sendu.

” Aku belum siap untuk hamil mas…”, kembali ia lontarkan pernyataan itu. Saya membelai rambutnya dengan penuh kasih sayang layaknya seorang pelindung utama dan pertama untukknya. Belum sempat saya membuka mulut, istri saya keluar dari kamar dengan masih berderai air mata. Ya Allah….berikan hamba ketabahan dan kepantasan untuk mendamaikan galaunya hati belahan jiwa saya ini.

Ketabahan saya pun diuji selama dua hari. Selama itu pula istri saya mengajukan ultimatum : ” Aku belum mau ngomong’in masalah itu dulu…!! “.

Dan di suatu sore yang cerah, saya nekat untuk mencoba mendobrak pintu hati istri saya yang sedang tertutup rapat. ” Sayang….mau jalan-jalan nggak…?? “. Rayuan gombal dari saya itu pun langsung dihantam dengan gelengan mantap. Saya tidak pantang menyerah. Saya coba rayuan ala kaum-kaum the have. ” Kamu nggak ke salon….pijit relaksasi atau menikur pedikur gitu…”. Kembali sebentuk gelengan malas menampakkan wujudnya di depan muka saya. Pwwuuuhhh…., saya akhirnya mengambil keputusan untuk ikut mendiamkan diri. Sekedar menata kembali hati dan pikiran yang sudah mulai kusut. Sambil menatap kosong ke layar televisi, kami berdua jadi seperti dua oarang asing yang lagi bengong nunggu’in angkot di halte bus. Tak ada interaksi di antara kami yang nyata-nyata menyandang status sebagai sepasang suami istri, dan yang sebentar lagi bakal menyandang status super waah sebagai seoarang ayah dan bunda.

bersambung……


Comments»

No comments yet — be the first.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: