jump to navigation

Anakku Mengajariku Ilmu Suap 5 April 2010

Posted by arcello in Uncategorized.
trackback

Memang benar, anak saya telah “mengajari” saya tentang ilmu suap. Eiiitt….ilmu suap di sini bukan ilmu suap-suap’an yang berkonotasi negatif. Yang saya maksud di sini adalah ilmu suap dalam hal aktifitas saya takkala menyuapi buah hati saya tercinta.

Sebagai seorang ayah yang mencoba menjadi seorang Superdad, saya selalu menyempatkan untuk menyuapi anak saya Cello. Itu saya lakukan di hari Sabtu ataupun Minggu, di saat saya beristirahat sejenak dari peliknya aktifitas kerja.

Dulu….waktu pertama kali saya mencoba menyuapi Cello, banyak kendala yang saya hadapi sehingga ujung-ujungnya menjadi ” Ma…, Mama aja yang nyuap’in deh, Cello nggak mau disuap’in ama Papa…!! “. Kendala-kendala yang muncul itu antara lain : Cello susah disuapi walaupun untuk sekedar membuka mulutnya, sering makanan yang sudah ada di dalam mulutnya dia muntah’in lagi, pernah juga Cello geleng-geleng kepala dengan semangat tinggi demi menolak acungan sendok bubur ke mulutnya.

Tapi walaupun begitu saya tetap bertekad untuk bisa menyuapi Cello. Kenapa ?? Alasan pertama adalah karena pengalaman menyuapi Cello adalah pengalaman pertama atau bahkan mungkin menjadi pengalaman yang tidak bakal terulang lagi sepanjang usia saya. Jadi saya ingin mendapatkan sebuah memory kehidupan bahwa saya dulu pernah punya pengalaman seru takkala menyuapi anak semata wayang saya itu. Kedua, adalah saya ingin lebih dekat dengan Cello secara batiniah. Maksudnya begini, saya percaya kalau anak itu punya memory yang sangat kuat, jadi ketika saya menyuapi Cello saya ingin agar Cello mampu merekam semua usaha, kesabaran dan juga kasih sayang saya di saat menyuapinya. Istilahnya….biar ada ikatan batin atau “chemistry” di antara saya dan Cello. Dengan begitu akan timbul harapan kelak kalau Cello dah gedhe dia akan balik sayang ke Papanya. Ketiga, tentu saja biar saya menjadi terlatih untuk menyuapi Cello. Ini agar di saat-saat istri saya tidak bisa melakukan tugasnya sebagai seoarang ibu ( bisa karena sakit ataupun alasan keluar kota ), saya tetap bisa menggantikan peran istri saya sebagai seorang ibu, walaupun tidak secara 100 % full….yang penting keperluan-keperluan vital Cello bisa saya penuhi.

Dan dengan usaha yang terus-menerus…akhirnya Cello sedikit demi sedikit mau juga untuk saya suapi. Keberhasilan saya itupun saya dapatkan dari Cello sendiri. Cello seolah mengajari saya bagaimana cara menyuapi seorang balita dengan benar. Contohnya : ketika saya terlalu bersemangat untuk terus menyuapinya, ia pun akan menggelengkan kepalanya kuat-kuat. Setelah saya perhatikan ternyata masih ada makanan di rongga mulutnya. Lalu kalau dia melakukan gerakan seperti orang muntah, maka itu tanda kalau dia lagi ( dalam bahasa Jawa “keseret’en” ) dan membutuhkan air. Giliran dia menyembur-nyemburkan air yang diminumnya tadi, itu adalah tanda kalau Arcello sudah puas minumnya.

Pernah suatu ketika Arcello begitu sulitnya untuk disuapi dan saya pun bingung harus bagaimana. Kemudian saya diamkan dia sejenak sambil mengamati berbagai bahasa tubuh yang coba ia tunjukkan ke saya. Ternyata tangannya menunjuk-nunjuk ke arah kalender yang tergantung di dinding. Saya berpikir kalau anak saya itu ingin saya untuk mengambil kalender itu buat dirinya. Saya pun kemudian mengambil kalender tersebut dan berkesimpulan kalau Arcello ingin maem sambil bermain-main dengan kalender. Tapi ternyata saya salah….Arcello malah menggeleng-gelengkan kepala lebih kencang sambil mulai memasang muka rewel. Waduuhhh…..kok jadi  begini.

Apa saya panggil Mama-nya saja ya…biar dia yang menyuapi Arcello. Ahh….saya tidak mau. Saya tidak mau di-cap sama istri saya kalau saya tidak bisa nyuap’in Arcello. Gengsi donk….!!

Akhirnya saya kembalikan kalender itu ke posisinya semula di dinding. Dan lagi…lagi..Arcello menunjuk-nunjuk kalender itu. Maunya apa sih neh anak….batin saya mulai agak kesal juga. Lalu saya mendiamkan diri sejenak sambil sesekali berpikir. Ahaaa….ternyata saya temukan juga jawabannya.

Yang saya lakukan adalah menggendong Arcello dan mendekatkan ia ke arah kalender yang ada di dinding tadi. Arcello pun tertawa-tawa kecil sambil menampar-nampar ujung kalender sehingga kalender itu bisa berputar ke sana kemari. Setelah beberapa saat bermain, Arcello saya dudukkan lagi di kursinya kemudian saya mulai lagi untuk menyuapinya. Dan makanannya pun dia lahap habis..bis. Hehehe…dasar anak-anak….

Pelajaran yang saya dapatkan adalah bahwa pada waktu maem, Arcello ingin agar waktu maem-nya itu adalah saat yang menyenangkan buat dia. Dia ingin agar maem bukanlah sebuah acara yang membosankan apalagi menakutkan. Untuk itu setiap saya menyuapi Arcello saya selalu berusaha membuat suasana yang santai, rileks, dan menyenangkan…bahkan kalau perlu saya selingi dengan permainan-permainan kecil yang bisa membuat Arcello tertawa. Dengan begitu Arcello akan merasa nyaman pada saat acara maem-nya berlangsung.

Comments»

No comments yet — be the first.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: